Gugatan Rekanan Alkes vs Bupati Nias Masuk Tahap Mediasi

GUNUNGSITOLI, SANURIA.COM| Gugatan sengketa pengadaan alat kesehatan di RSUD Gunungsitoli Tahun Anggaran 2012 antara CV Karya Sendoro melawan Bupati Nias Drs Sokhiatulo Laoli memasuki tahapan mediasi.

Sidang yang berlangsung di PN Gunungsitoli itu, dipimpin oleh Majelis Hakim Muhamad Y Sembiring dengan hakim anggota yang terdiri dari Kenedy Sitepu dan Agung FD Cori Laia, Kamis (11/2/2016).  Dalam sidang terbuka itu, sempat terjadi perdebatan antara pihak penggugat yang langsung diwakili Direktur CV Karya Sendoro Sonitehe Telaumbanua, SH dengan majelis hakim.

Perdebatan itu terkait soal maksud mediasi antara tergugat dengan penggugat. Apalagi salah satu pihak turut tergugat dalam hal ini PT Winatindo Bratasena, beralamat di Medan belum ada kabarnya. Dan mejelis memutuskan tidak melakukan panggilan lagi.

“Mohon dijelaskan maksud mediasi dalam perkara ini. Karena dalam sidang-sidang mediasi sebelumnya, pihak tergugat tak punya itikad baik, karena lebih pada negosiasi bukan mediasi. Ini berpotensi pelanggaran hukum,” ujar Sonitehe Telaumbanua.

Ditambah lagi, Bupati Nias selaku yang berkepentingan dalam hal ini ternyata pada saat agenda mediasi sebelumnya, tidak pernah hadir. Dan hanya diwakili pesuruh yang tidak mengerti persoalan.

“Apalagi yang menyangkut teknis pengadaan barang/jasa. Mendingan dilewatkan saja apabila sama konteksnya seperti awal dan segera masuk saja persidangan selanjutnya,” papar Soni.

Namun pendapat tersebut diabaikan majelis hakim. Hakim tetap pada sikapnya  untuk melanjutkan sidang mediasi.

“Perkara ini sangat menjadi perhatian, karena prosesnya sudah hampir 4 tahun, namun hanya perdebatan komptensi dan masalah formil. Sementara pokok perkara sampai sekarang belum diadili,” ucap Soni memotong pembicaraan hakim.

Dijelaskannya pula, fakta persidangan sudah dapat digambarkan, apakah benar yang dilakukan bupati atau tidak. Apalagi sulit terbantahkan bahwa pihak yang memintakan pembatalan kemenangan penggugat, dikemudian hari adalah pelaku kejahatan keuangan negara di beberapa daerah kabupaten/kota yang sudah berstatus koruptor.

“Lagi pula, perkara ini telah menyandera kepentingan masyarakat Nias untuk dapat menikamti kesehatan. Mestinya perkara cukup selesai di tingkat mediasi, tidak perlu mempertontonkan kehebatan kekuasaan seperti ini,” ujar Soni dengan nada tinggi.

Usai penggugat beragumen, Ketua Majelis Hakim Y Sembiring mengambil ketuk palu dan menyatakan bahwa upaya mediasi wajib dilakukan dengan menunjuk  hakim mediasi yakni Wakil Ketua Pengadilan Nelson Angkat.

Ada Ridwan Winatas di Alkes Nias
Untuk diketahui, perkara ini muncul terkait dengan pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Umum Gunungsitoli Tahun Anggaran 2012 dari dana BDB Propinsi Sumatera senilai 15 Miliar.

Dimana melalui proses tender terbuka, CV Karya Sendoro selaku penggugat ditetapkan pemenang.

Penawaran CV Sendoro adalah penawaran terendah senilai Rp12,2 Miliar dan mengalahkan peserta tender lain, diantaranya PT Winatindo Bratasena, PT Magnum Global Mandiri dan PT Tiara Donya.

Namun anehnya, Bupati Nias membatalkan Pengumuman Pemenang atas dasar keberatan PT Winatindo Bratasena. Merasa dirugikan, CV Karya Sendoro menempuh jalur hukum.

Belakangan diketahui, perusahaan yang meminta batal ternyata terlibat Tindak Pidana Korupsi Alkes di seluruh Indonesia.

Berdasarkan penelusuran Sanuria, ternyata perusahaan yang meminta batal pengadaan alat kesehatan RSUD Gunungsitoli Tahun Anggaran  2012 adalah terlibat semua kejahatan korupsi pengadaan alat kesehatan dana BDB Tahun 2012 di beberapa Kabupaten/kota Sumatera Utara yang diaktori Ridwan Winata, dengan modusnya menggunakan perusahaan yakni: PT Winatindo Bratasena, PT Magnum Global Mandiri, PT Tiara Donya.

Semua yang dikerjakan perusahaan tersebut memakan korban yang berujung para  Panitia Pengadaan, PPK dan Kepala Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit berujung  masuk penjara.

Seluruhnya tersandung alat kesehatan yang disuplainya adalah barang bekas. Kini pemilik perusahaannya ditahan di Bandar Lampung dan dikabarkan telah meninggal dunia dalam penjara.

Fakta kasus ini, sering diuber-uber di persidangan oleh Direktur CV Karya Sendoro Sonitehe Telaumbanua, SH. Dia menduga di balik pembatalan kemenangannya adalah pemufakatan jahat yang berpotensi adanya Tindak Pidana Korupsi Suap.

Karena berdasarkan beberapa salinan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang dia miliki, terkait skandal yang sama, terungkap bahwa Ridwan Winata, selaku pemilik perusahaan tersebut telah menyuap beberapa pejabat penerima dana BDB itu.

Oknum penerima suap mulai dari anggota DPRD Sumatera Utara hinga beberapa pejabat daerah.

“Ini sudah cukup fakta fakta kasus ini sebenarnya bahwa seorang penjahat uang negara telah menggiring Bupati Nias membatalkan kepentingan pembangunan karena diduga gagal merencanakan kejahatan seperti didaerah lain,” pungkas Sonitehe Telaumbanua, SH yang berkali kali diungkapnya di persidangan. [red]

2 Comments

  1. Pingback: Mediasi Gugatan Rekanan Alkes vs Bupati Nias Sokhiatulo Laoli Gagal – Sanuria

  2. Pingback: Sonitehe Telaumbanua, SH: Bupati Nias Aniaya Kepentingan Masyarakat – Sanuria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *