Dermaga Penyeberangan RoRo di Gunungsitoli Ambruk

GUNUNGSITOLI, SANURIA| Ketika sedang dalam tahap pengerjaan, dermaga penyeberangan RoRo yang dikerjakan PT Mitra Perkasa Jaya di Desa Siwalumbanua, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli ambruk sebagian, Jumat (19/2/2016).

Ambruknya dermaga penyeberangan RoRo sepanjang 12 meter yang berasal dari dana APBN Tahun 2015 sebesar Rp 82 milliar, diduga akibat pengerjaan yang asal jadi, dan penggunaan bahan bangunan yang tidak sesuai standar atau memenuhi syarat pembangunan dermaga.

Insiden ambruknya dermaga penyeberangan RoRo tersebut sesuai informasi yang dihimpun wartawan, juga menyebabkan dua orang pekerja mengalami luka serius dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Gunungsitoli.

Dari informasi yang dihimpun dari masyarakat, ambruknya dermaga penyeberangan RoRo yang dikerjakan PT Mitra Perkasa Jaya sepanjang 12 meter terjadi pada pukul 10.00 WIB.

Ketika itu sejumlah pekerja sedang melakukan pengecoran lantai dermaga. Tiba tiba lantai dermaga yang sedang dicor ambruk dan jatuh ke dalam laut, sehingga sejumlah pekerja berusaha menyelamatkan diri.

Namun, dua orang pekerja tidak sempat menyelamatkan diri dan ikut jatuh ke dalam laut dan mengalami luka.

Pekerja yang mengalami luka akibat insiden ambruknya lantai dermaga penyeberangan RoRo menurut informasi masyarakat adalah Bulo’o Gea dari Desa Tetehosi I, dan Alius Gea dari Desa Simanaere Kecamatan Gunungsitoli Idanoi.

Setelah kejadian kecelakaan, kedua pekerja dibawa ke Puskesmas Idanoi untuk perawatan, tetapi karena luka yang dialami Bulo’o Gea cukup serius, maka Bulo’o Gea dirujuk ke RSU Gunungsitoli.

Konsultan pengawas yang ditemui wartawan di lokasi membenarkan jika lantai dermaga penyeberangan RoRo yang sedang dicor ambruk sepanjang 12 meter. Pengawas bermarga Siagian, mengaku sebelum dilakukan pengecoran, dia telah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Dia juga mengakui jika akibat kecelakaan tersebut ada dua pekerja yang mengalami luka dan telah dibawa ke puskesmas dan RSU Gunungsitoli untuk mendapat perawatan.

Tagor Tambunan pelaksana lapangan PT Mitra Perkasa Jaya ketika hendak ditemui, ternyata tidak berada dinlapangan, dan telepon selulernya tidak aktif ketika dihubungi wartawan.

Sesuai pantauan wartawan di lapangan, terlihat konstruksi besi di titik yang ambruk sudah bengkok, karena tidak dapat menahan beban yang ada di atasnya. Bahkan tiang pancang yang berada di bawah konstruksi besi tempat lantai cor terlihat sedikit amblas ke bawah dan diduga kedalaman pemancangan belum mendapatkan tanah keras.

Sehingga, saat dilakukan pengecoran dengan beban yang yang cukup berat, tiang pancang ambles, sehingga konstruksi besi yang diatasnya ikut turun, dan membuat coran jembatan ambruk.

Selain itu, dari sejumlah narasumber yang tidak mau disebutkan namanya, memberitahu jika dalam pengerjaan jembatan penyeberangan RoRo, pelaksana menggunakan bahan material seperti pasir dari sungai Idanoi.

Padahal diketahui jika untuk pengerjaan bangunan berkualitas seperti jembatan penyeberangan, bahan material pasir yang baik dan sesuai standart tes hanya dari sungai Moi, Kabupaten Nias Barat.

Untuk diketahui, pembangunan dermaga penyeberangan RoRo yang pengerjaannya dimulai Agustus 2015, dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dikerjakan dengan dana sebesar Rp 50 milliar pada tahun 2015/2016.

Sedangkan tahap kedua dikerjakan dengan biaya sebesar Rp 32 milliar tahun 2016/2017 dengan anggarannya dari APBN Dirjen Perhubungan Danau Kementerian Perhubungan RI [IH]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *